Guru vs Tentor

Fenomena menjamurnya bimbel-bimbel tidak terlepas dari peran guru dan tentor. Dan berikut merupakan pandangan saya tentang guru dan tentor.Saya sebagai salah satu siswa yang mengikuti sebuah bimbel saat ini, merasakan beberapa perbedaan besar ketika belajar di sekolah dan bimbel. Terutama pada saat-saat sekarang, karena saya sekarang duduk di kelas 3 SMA. Bukan berarti saya mengatakan bahwa bimbel lebih baik daripada sekolah. Tapi di sini saya hanya ingin menyuarakan pendapat saya tentang kedua lembaga ini.

Pertama, saya memandang bahwa kedua lembaga ini lebih fokus kepada ilmu-ilmu teoritis. Artinya, pada kedua lembaga ini sangat sedikit dijumpai bagaimana seorang siswa mendapat pembelajaran dan pendidikan tentang akhlak, sikap, cara hidup bermasyarakat atau bahkan cara-cara bersosialisasi. Sehingga, ketika nanti telah keluar dari sekolah atau bimbel, maka siswa seakan lupa dengan siapa guru atau tentor yang pernah mengajarnya. Siswa jarang atau sama sekali tidak pernah diajak melihat dunia luar tempat nanti dia akan dikembalikan setelah semua proses pembelajaran ini selesai.

Kedua, di sekolah biasanya tidak terjalin hubungan yang dekat antara guru dan siswa. Menurut saya, seharusnya seorang guru harus dapat menjiwai setiap siswa yang diajarnya, begitu juga tentor. Namun, nyatanya kebanyakan guru dan tentor hanya datang, mengajar, dan pulang. Sehingga, tidak terjalin hubungan emosional yang baik antara guru dan siswa. Terutama di sekolah (berdasarkan yang saya alami), siswa, termasuk saya tidak bisa secara leluasa bertanya tentang materi yang tidak dimengerti. Karena kebanyakan guru enggan menjawabnya. Sehingga terciptalah sebuah paradigma, bahwa ketika seorang siswa bertanya kepada gurunya tentang suatu materti yang dia tidak mengerti, dia termasuk anak bodoh atau pemalas. Padahal, itu bisa membunuh daya pikir dan imajinasi seorang siswa tentang sesuatu. Bukankah sudah kewajiban seorang guru untuk mendidik dan mengajari muridnya? Bukan berarti hal ini berlaku untuk semua guru dan tentor yang mengajar. Namun setidaknya inilah yang sering saya alami.

Ketiga, ada guru atau tentor yang sikapnya kurang baik. Seperti, tempamental, suka mengeluh, dst. Sehingga, inilah yang kemudian ditiru oleh murid yang mereka ajarkan. Atau, setidaknya walaupun tidak sampai ditiru, sikap-sikap seperti ini membuat seorang siswa enggan untuk belajar. Karena itu, jadilah guru atau tentor yang disukai oleh murid karena itu dapat menambah semangat belajar murid tersebut.

Mungkin itu sekilas tentang guru dan tentor yang saya tulis berdasarkan apa yang saya alami. Silahkan tambahkan pendapat Anda…….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: